jannatii

Bila Pernikahan hanya untuk...

1.

Bila menikah hanya untuk sekadar halal, ah tentu ada hambar yang tanpa sadar menurunkan dinamika berumah tangga.

2.

Bila menikah hanya untuk menunjukkan kehebatan diri atas taqdir baik yang menghampiri, tentu akan cukup sulit untuk sekadar berbagi inspirasi.

3.

Bila menikah hanya melahirkan riak-riak pertengkaran dengan pasangan, maka bagaimana kita akan mengurus keluarga dengan benar, dan bagaimana kita akan eksis di ruang publik.

4.

Bila menikah hanya berkutat dengan urusan domestik alias dapur, sumur dan kasur, maka kebermanfaatan kita sebagai makhluk sosial akan dipertanyakan. 

5.

Bukankah sejatinya, pernikahan adalah melipatjutakan berkah dan manfaat bagi sebanyak-banyaknya orang.

6.

Dan bila dengan menikah malah membuat kita stagnan dari karya dan kinerja, lalu kita jadi susah “move on” dibuatnya, maka kita perlu bertanya ulang terhadap niat dan tujuan yang sebenarnya.


Ayah Bunda yang dirahmati Allah.
Yuk, kita jujur kepada diri kita. Seperti apakah pernikahan kita sekarang?

Umur kita terus bertambah. 20, 30, 40, 50 tahun.. tanpa terasa masalah yang sudah ada tidak di selesaikan dan kita abaikan karena alasan "Ah, dia memang seperti itu", "Hubungan kita memang seperti ini", "Ah, males ngomongnya, males nanti jadi ribut", dan banyak alasan-alasan lainnya. 


Apakah kita menjadi individu yang tanpa semangat dalam menempuh rutinitas keseharian kita?

Kita menjadi individu yang cuek tanpa gairah terhadap pasangan?

Pernikahan tak sesederhana menyatukan dua insan, namun memadukan kekuatan jiwa dan impian-impian surga.


Level Up Your Marriage

Buku “Level Up Your Marriage” hadir sebagai suplemen batin, guna meremajakan kembali hubungan bersama pasangan, plus mengokohkan ekspektasi-ekspektasi.


PROMO GRATIS ONGKIR SELURUH INDONESIA BISA KAMI HENTIKAN KAPAN SAJA

*Pemesanan melalui aplikasi Whatsapp. Aplikasi akan terbuka secara otomatis.

Sebagai gambaran untuk Ayah Bunda di sini terkait buku Level Up Your Marriage, berikut kami berikan bocoran poin-poinnnya.

1


Pernikahan bukan sesederhana menghalalkan sepasang anak manusia. Namun sebuah perjalanan panjang menuju kehidupan yang sesunguhnya.

2


Mengawali babak rumah tangga sebagai pengantin baru, memang sangat wajar jika terhiasi dengan ragam romantika. Namun jauh dari itu, sepasang suami isteri harus realistis dengan tujuan hidup. Maka berjibaku dan berdikari adalah seharusnya. Untuk apa? Untuk mendulang bahagia dunia akhirat.

3


Berpasangan adalah mensinergikan sekian perbedaan dan memadukan ragam persamaan. Hingga terwujudlah rumah tangga impian dimana keduanya mampu menyelesaikan masalah dengan bijaksana.

4


Dan mereka yang mampu menyelesaikan kehidupan bersama pasangan, adalah mereka yang siap membesarkan buah hati dengan kearifan. Karena hakikat berumah tangga adalah bagaimana menciptakan pengasuhan terbaik secara bersama, secara beriringan, satu hati, satu persepsi.

5


Rumah tangga tak cukup sampai menyelesaikan masalah-masalah yang sangat privat, namun berumah tangga adalah bagaimana melahirkan gagasan dan kebermanfaatan untuk sebanyak-banyaknya orang.

Rumah tangga berdaya

Rumah tangga berdaya. Memang itulah rumah tangga yang dirindukan surga. Rumah tangga yang tak cukup berbicara romantika. Namun rumah tangga yang penuh keberterimaan dan keberdayaan. Rumah tangga yang menjamin bahagia anggota keluarga dan mampu menghadiahkan isnpirasi pada semesta.

Mau tau lebih detail, penjabaran yang lebih dalam dengan contoh yang mendetail silahkan lakukan pembelian sekarang sebelum kehabisan.

Bismillah. Karena memang buku adalah bekal. Maka memilikinya adalah sangat berharga untuk bahagia dunia akhirat.

Rp. 99.000

Promo gratis ongkir seluruh indonesia bisa kami hentikan kapan saja

*Pemesanan melalui aplikasi Whatsapp. Aplikasi akan terbuka secara otomatis.

Copyright 2018, JANNATII

Disclaimer  |  Privacy