JANNATII Alquran Tartil


Yuk, baca Alquran dengan tartil
Menggunakan  Alquran Tartil

Tulisan Latin

Transliterasi - Bantuan yang dapat memudahkan kita untuk mngucapkan ayat per ayat.

Detail Tajwid 

Setiap tajwid dijelaskan dengan ditail bukan hanya nama tajwidnya tapi, lengkap dengan cara baca dan panjang harakat nya.

Tajwid Warna

Setiap tajwid dijelaskan dengan warna tertentu

Ukuran besar

Ukuran A4 (21x30 cm) - Sangat cocok untuk membaca Alquran dengan tartil

Ini dia spesifikasi Alquran Tartil

  • check-square-o
    Tajwid warna kode alfabet A – Z
  • check-square-o
    Panduan Hukum Tajwid
  • check-square-o
    Transliterasi Latin perkata di bawah nya,
  • check-square-o
    Ukuran Besar
  • check-square-o
    Al-Qur’an Pokok 15 baris
  • check-square-o
    Cocok untuk semua kalangan. Anak-anak sampai dewasa

Liat dalamnya yuk..

Silahkan di cek isinya seperti apa...

Harga 210.000

Pesan Sekarang Harga Rp. 189.000

Membaca Alquran dengan tartil 

Kita sering mendengan istilah tartil dalam membaca Alquran. Apa sih maksud dengan membaca dengan tartil?

Membaca dengan jelas tidak mungkin bisa dilakukan jika membacanya terburu-buru

Allah memrintahkan kita agar kita membaca al-Quran dengan tartil,
Dan bacalah al-Qur’an itu dengan tartil. (Al-Muzammil: 4)

Berikut beberapa keterangan sahabat tentang makna tartil,


Ali bin Abi Thalib menjelaskan makna tartil dalam ayat,
”Mentajwidkan huruf-hurufnya dengan mengetahui tempat-tempat berhentinya”. (Syarh Mandhumah Al-Jazariyah, hlm. 13)

Ibnu Abbas mengatakan,
Dibaca dengan jelas setiap hurufnya.

Abu Ishaq mengatakan,
Membaca dengan jelas tidak mungkin bisa dilakukan jika membacanya terburu-buru. Membaca dengan jelas hanya bisa dilakukan jika dia menyebut semua huruf, dan memenuhi cara pembacaan huruf dengan benar. (Lisan al-Arab, 11/265).


Inti tartil dalam membaca adalah membacanya pelan-pelan, jelas setiap hurufnya, tanpa berlebihan. (Kitab al-Adab, as-Syalhub, hlm. 12)



Abu Bakr dan Umar Radhiyallahu ‘anhuma pernah menyampaikan kabar gembira kepada Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

Siapa yang ingin membaca al-Quran dengan pelan sebagaimana ketika dia diturunkan, hendaknya dia membacanya sebagaimana cara membacanya Ibnu Mas’ud. (HR. Ahmad 36, dan Ibnu Hibban 7066).


Hadis ini menunjukkan keistimewaan bacaan al-Quran Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu. Karena bacaannya sama dengan ketika al-Quran di turunkan. Beliau membacanya dengan cara ‘ghaddan’ artinya segar yang belum berubah. Maksudnya suaranya menyentuh (as-Shaut an-Nafidz) dan memenuhi semua hak hurufnya.


Untuk itulah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam suka mendengar bacaan Ibnu Mas’ud, dan bahkan hingga beliau menangis.


Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu bercerita, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyuruhnya untuk membaca al-Quran,


“Bacakan al-Quran!” Pinta Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Ya Rasulullah, apakah akan membacakan al-Quran di hadapan anda padahal al-Quran turun kepada anda?” tanya Ibnu Mas’ud.


“Ya, bacakan.”
Kemudian Ibnu Mas’ud membaca surat an-Nisa, hingga ketika sampai di ayat,


Bagaimanakah jika Aku datangkan saksi untuk setiap umat, Aku datangkan kamu sebagai saksi bagi mereka semua.


Tiba-tiba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam minta agar bacaan dihentikan.


Ibnu Mas’ud melihat ke arahnya, ternyata air mata beliau berlinangan. (HR. Bukhari 5050 & Muslim 1905).

Copyright 2017, JANNATII -  Disclaimer